PeduliBangsa.co.id
Data UNESCO menyebutkan, dalam kurun waktu 30 tahun terakhir sekitar 200-an Bahasa di dunia yang punah.
Demikianlah juga di Indonesia, dari 718 Bahasa Daerah yang teridentifikasi, banyak yang kondisinya terancam punah dan kritis.
Penyebab utamanya adalah para penutur jatinya tidak lagi menggunakan dan mewariskan bahasa kepada generasi berikutnya.
Mengantisipasi punahnya salah satu ‘kekayaan’ bangsa tersebut, Kementerian Pendidikan, Riset dan Teknologi melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mulai melakukan langkah-langkah revitalisasi bahasa daerah.
Dalam rangka tersebut, Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) mulai melakukan revitalisasi dua bahasa Daerah, yakni Bahasa Madura dan Bahasa Jawa Dialek Using atau Bahasa Using.
Bertempat di Ruang Minakjinggo, Gedung Pemkab Banyuwangi, Selasa (28/3) kemarin, BBJT menggeser acara Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) yang dihadiri para maestro Bahasa Using dengan perwakilan para Guru.
Kepala BBJT, DR Umi Kulsum dalam sambutannya menjelaskan, kegiatan diskusi dalam rangka revitalisasi ini akan terus berlanjut dengan kegiatan lain seperti pelatihan para Guru Master. “Para maestro harus mempersiapkan materi bahan ajar untuk bisa digunakan oleh para Guru Master. Untuk Kabupaten Banyuwangi ada 60 Guru Master yang sudah ditetapkan,” jelas Umi Kulsum.
Dijelaskan, rangkaian puncak dari revitalisasi bahasa daerah ini adalah digelarnya Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) mulai tingkat Kabupaten sampai tingkat nasional. (ebs)
Banyak Bahasa Daerah Terancam Punah BBJT Revitalisasi Dua Bahasa Daerah












