Banyuwangi Jawa Timur, pedulibangsa.co.id – Malam pertama bulan suci Ramadan, Rabu (18/02/2026) malam, membawa suasana yang berbeda di dalam kompleks Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi. Ratusan warga binaan berbondong-bondong mengisi setiap sudut Masjid At-Taqwa, Musala Al-Hidayah, dan Musala An-Nisa untuk melaksanakan salat Tarawih perdana, dengan suasana khusyuk yang menyentuh hati siapapun yang menyaksikannya.

Dari jauh sudah terlihat antrean warga binaan yang rapi berjalan menuju tempat ibadah, mengenakan baju koko dan peci yang terawat dengan baik. Saat imam membacakan takbiratul ihram, seluruh ruangan langsung terkunci dalam kedamaian yang mendalam. Setiap gerakan rukuk, sujud, dan berdiri dilakukan dengan penuh khidmat, mata mereka terfokus pada tempat sujud, seolah dunia luar tidak ada lagi.
Meski berada jauh dari keluarga dan rumah mereka, raut wajah para warga binaan tidak menunjukkan rasa gelisah. Sebaliknya, tercermin ekspresi tenang dan penuh penghayatan setiap kali ayat suci dibacakan. Suara bacaan yang merdu dari imam bergema lembut, menyatu dengan irama napas para jamaah yang menjalani ibadah dengan khusyuk.
Kepala Lapas Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, mengaku terharu menyaksikan suasana tersebut. “Malam ini benar-benar berbeda. Kita bisa merasakan getaran spiritual yang kuat dari setiap warga binaan. Mereka menjalani Tarawih bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi dengan hati yang sungguh-sungguh,” ujarnya.

Suasana semakin menyentuh ketika sesi ibadah memasuki tahap akhir. Saat imam membacakan doa usai salat, beberapa warga binaan tampak tenggelam dalam doa yang panjang, beberapa di antaranya menunduk dengan mata berkaca kaca. Lantai masjid menjadi tempat mereka mengungkapkan segala isi hati dari rasa penyesalan akan kesalahan masa lalu hingga harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Seorang warga binaan berinisial AS mengungkapkan perasaannya setelah selesai beribadah. “Saat ini rasanya hati saya begitu lega. Meskipun tidak bisa bersama istri dan anak-anak, suasana khusyuk di sini membuat saya merasa dekat dengan Sang Pencipta. Saya berdoa agar keluarga saya selalu sehat dan saya bisa menjadi orang yang lebih baik untuk mereka,” katanya dengan haru
Pihak Lapas mengawal pelaksanaan Tarawih dengan pengawasan yang humanis, memastikan semua jamaah bisa beribadah dengan nyaman dan kondusif. Petugas berdiri di luar area ibadah, hanya mengintervensi jika diperlukan, agar suasana khusyuk tidak terganggu.

Dengan harapan bahwa suasana khusyuk seperti ini bisa terus berlanjut hingga akhir Ramadan, pihak Lapas berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh agar para warga binaan bisa menjalankan ibadah dengan baik dan mendapatkan keberkahan dari bulan suci ini.
(MSP)













