JAKARTA – Pedulibangsa.co.id – Tahun ini merupakan penyelenggaraan keempat Festifal Film Indonesia (FFI) yang sejak pertama diselenggarakan tahun 1955. FFI konsisten untuk terus berupa memberikan apresiasi pencapaian pekerja film Indonesia diera berkembangnya media baru saat ini. FFI diharapkan menjadi milik dari seluruh elemen perfilman Indonesia .
FFI mengumumkan jajaran komite terbarunya, setelah sebelumnya dipegang oleh Lukman Sardi, kini aktor Reza Rahadian menjabat sebagai ketua umum untuk tiga tahun ke depan. Selain Reza Rahardian, Komite FFI 2021-2023 yang ditunjuk oleh Badan Perfilman Indonesia juga akan berisi Ketua Bidang Penjurian Garin Nugroho, Ketua Bidang Acara Inet Leimena, Sekretanat Linda Gozali, Humas Nazira C. Noer dan Emira P. Paltiradjawane, serta Keuangan dan Pengembangan Usaha Gita Tara.
Reza Rahadian selaku Ketua Umum mengatakan, Satu hal yang utama adalah mengedepankan keterbukaan dalam keterlibatan dari berbagai bagian yang ada dalam ekosistem tersebut. Melalui virtual di Jakarta, Kamis (15/7/2021).
“FFI tahun ini berfokus pada penyempurnaan sistem penjurian dan kepanitiaan serta transparansi pengelolaan anggaran yang ada,” ucap Reza Rahadian.
Dikatakan Reza Rahadian, banyaknya pekerjaan rumah lainnya tentu kita
lakukan saat ini belum sempurna tetapi selama tiga tahun kedepan panitia akan selalu berusaha yang terbaik untuk menyempurnakan segala sistem dan arsitektur yang ada dalam FFI.
Menyambut Piala Citra tahun ini, Komite FFI bertemakan Sejarah Film dan Media Baru, dengan subtema Beralih Masa Bertukar Rasa Film Indonesia. Pendaftaran film akan dibuka mulai tanggal 15 Juli – 30 Agustus 2021. Seleksi dan penjurian akan berlangsung mulai tanggal 30 Agustus 2021 hingga 25 Oktober 2021.
“Ada satu program spesifik yang akan kembali hadir di FFI yaitu kritik film. Tahun ini FFI juga akan menunjuk duta baru FFI yang terkini dari anak-anak muda masa depan Perfilman Indonesia,” ucap Menyambut Piala Citra tahun ini, Komite FFI bertemakan Sejarah Film dan Media Baru, dengan subtema Beralih Masa Bertukar Rasa Film Indonesia. Pendaftaran film akan dibuka mulai tanggal 15 Juli – 30 Agustus 2021. Seleksi dan penjurian akan berlangsung mulai tanggal 30 Agustus 2021 hingga 25 Oktober 2021,” ucap Reza Rahardian.
“Semoga kehadiran FFI dapat memberikan dukungan pada insan film yang tentunya saat ini masih berjuang ditengah pandemi,” tutur Reza Rahardian.
Reza Rahadian menjelaskan tentang pemilihan tema Sejarah Film dan Media Baru, Sejarah film Indonesia merupakan perjalanan karya yang perlu diingat, menjadi bahan renungan bersama dan pelajaran berharga, tidak hanya bagi pelaku tapi juga seluruh ekosistem perfilman dalam pencapaian film Indonesia di era berkembangnya media baru saat ini.
Mengenai kepanitiaan dan sistem penjurian, Reza Rahadian menguraikan, FFI melakukan beberapa perubuhan dalam kepanitiaannya. Bidang-bidang di kepanitiaan diisi oleh para protesional yang memiliki rekam jejak dan capaian pada profesinya masing-masing yang masih berkaitan erat dengan dunia film. Peran serta perempuan dalam kepanitian FFI tahun ini juga cukup besar. Selain itu, sistem penjurian juga disempurnakan dengan memberikan ruang bagi semua pihak untuk terlihat aktif sejak proses awal. Peran serta aktif dari asosiasi-asosiasi film juga diharapkan untuk merespon pertumbuhan yang ada dalam kerangka perfilman.
“Selain itu, Komite FFI juga menambahkan kategori baru, yaitu Film Favorit, Aktor Favorit, Aktris Favorit, dan Kritik Film, Kategori favorit ini memberi kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat dan ikut memeriahkan FFI,” ujar Reza Rahardian.
Penjurian tahun ini menawarkan beberapa penyempurnaan dari tahun-tahun sebelumnya.
“Malam nomimasi rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 10 Oktober 2021, sedangkan malam penghargaan pada tanggal 10 November 2021. Hari Pahlawan dipilih sebagai malam penehargaan sekaligus momentum untuk mengusulkan Usmar Ismail, tokoh film nasional yang melahirkan FFI dan kiprahnya telah diakui perfilman dunia, sebagai pahlawan nasional,” Tandas Reza Rahardian.
.
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan FFI.
Nadiem Makarim mengatakan, Kemendikbudristek mendukung upaya insan-insan perfilman untuk terus berkarya dan menghadirkan terobosan. Ranyak yang dapat kita pelajari dari sejarah dan perkembangan perfilman Indonesia, termasuk dari penyelenggaraan FFI setiap tahunnya.
“Saya yakin, FFI akan terus menjadi katalisator kemajuan film Indonesia yang kita upayakan bersama ini,” ujar Nadim M.akarim
Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid turut menyampaikan pentingnya penyelenggaraan FFI. Ia mengatakan, festival film merupakan cara memperkenalkan dan mempromosikan film-film kita ke dunia, bahkan tak menutup kemungkinan membuat studio besar tertarik dengan film yang kita miliki, sehingga penting bagi kita untuk tetap menggelar FFI.
Hilmar menambahkan, saat ini banyak bermunculan sineas muda yang berkualitas di perfilman Indonesia. Tidak kalah dengan para seniornya, kini smeas muda telah mampu memberikan kontribusinya terhadap dunia perfilman Indonesia.
Garin Nugroho mengungkapkan, Ketentuan penjurian ini adalah kelanjutan dari ketentuan yang sudah terbangun sebelumnya melalui evaluasi dan mput berbagai kalangan Komite FFI tahun ini membangun tiga hal penting dalam aspek penjuriannya, yaitu peran asosiasi profesi perfilman, keterlibatan aktif masyarakat, dan juga sistem dewan juri.
“Melanjutkan sistem yang sudah ada, Komite FFI kali ini mencoba mengelola sistem penjurian dengan partisipasi aktif asosiasi dan membuka ruang diskusi terkait tantangan yang mereka hadapi, sekaligus melibatkan ekosistem film secara luas. Oleh karena itu, sejak awal proses seleksi hingga nominasi, peran aktif dan keterwakilan asosiasi menjadi dasar penjurian, Anggota Dewan Juri yang akan dipilih oleh Komite FFI 2021-2023 pun lewat berbagai masukan, diskusi, dan pemungutan suara oleh asosiasi-asosiasi profesi perfilman,” ujarnya.
Bidang-bidang yang mengalami perkembangan besar dengan disiplin tersendiri, seperti film dokumenter, film pendek, film animasi, dan kritik film dan tema hingga prosedur akan dikelola bersama asosiasi-asosiasi terkait dengan berkoordinasi dengan Komite FFI. Asosasi tersebut juga diajak untuk bekerja sama mengembangkan model penjurian di daerah-daerah untuk film pendek dan dokumenter yang saat ini berkembang pesat hingga ke pelosok Indonesia,” imbuh Garin Nugroho.
Garin Nugroho juga memahami bahwa FFI tidak akan lepas dari perubahan dan pertumbuhan film. Film adalah anak teknologi. Perubahan teknologi menjadi bagan pening pertumbuhan film yang mengubah cara dan metode berkarya hingga hubungan penonton dan industri kreatif dalam arti luas. OTT adalah bagian dari perubahan teknologi yang menjadi bagian industr film. Selain itu, sesuai dengan tema sejarah dan media baru, di era media baru uni kami juga mengajak publik untuk bisa berpartisipasi dengan memilih film, aktor, dan akins favont mereka melalui situs resmi bunga
“Tahun ini, industri film Indonesia masih berjuang menghadapi pandemi. Reza Rahadian melihat insan film Indonesia tetap berupaya melahirkan karya karya terbaik dan membuat perfilman Indonesia tetap bergerak di tengah situasi yang tidak mudah dan rang gerak yang lebih terbatas,'” tuturnys.
Garin Nugroho menegaskan, Film Indonesia akan terus hidup, karya sineas dan kecintaan masyarakat terhadap film Indonesia akan menjadi semangat untuk terus memajukan film Indonesia.
Informasi lebih lanjut dapat diperoleh dengan mengakses festivalfilm.id atau berkomunikasi dengan Nazira C. Noer (Humas Acara) dan Emira P. Paturadjawane (Humas Penjurian).
(Gufron/Juli2021).













