Banyuwangi Jawa Timur pedulibangsa.co.id – Masyarakat Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, menggelar Ritual Selametan Dusun dengan penuh kekhidmatan dan penghayatan mendalam pada Selasa (26/5/2026). Acara sakral ini digelar sebagai wujud rasa syukur mendalam atas segala nikmat dan karunia yang dilimpahkan Tuhan, sekaligus sarana memohon doa keselamatan, kedamaian, serta kelestarian wilayah desa dari segala marabahaya atau bencana.
Rangkaian acara diawali dengan prosesi Ider Bumi, sebuah tradisi suci berkeliling wilayah dusun sebagai bentuk penyerahan diri, penghormatan kepada leluhur, dan doa agar tanah kelahiran ini senantiasa diberkahi. Pukul 18.30 WIB, suasana kebersamaan semakin terasa kental lewat tradisi Slametan Barikan, di mana warga menyajikan dan menyantap hidangan bersama di sepanjang jalan utama desa. Momen ini menjadi simbol nyata bahwa rezeki, kebahagiaan, dan rasa syukur akan terasa jauh lebih indah dan bermakna jika dibagi bersama. Kegiatan ini berhasil mempersatukan warga dari lima kampung yang ada di wilayah tersebut, yakni Karangbendo, Gedhangan, Asem, Karangan, hingga Pejaratan, bergerak dalam satu irama dan tujuan yang sama.

Puncak kekhidmatan acara berlangsung pukul 20.00 hingga 03.00 WIB dengan digelarnya ritual Mocoan Lontar Yusuf. Para tetua adat dan pemangku budaya membacakan serta menafsirkan isi kitab kuno peninggalan leluhur tersebut yang berisi petuah bijak, ajaran moral, tata krama, serta falsafah hidup luhur. Nilai-nilai ini diwariskan secara turun-temurun agar menjadi pedoman hidup dan bekal berharga bagi generasi penerus kelak.
Kepala Desa Tamansuruh, Teguh Eko Rahadi, S.A.B yang akrab disapa Kang Teguh, yang juga menjabat sebagai Ketua DPD MATRA Banyuwangi, Pengurus LESBUMI PCNU Kabupaten Banyuwangi, serta Penasehat PKDI Kabupaten Banyuwangi, menegaskan bahwa Selametan Dusun bukan sekadar seremonial atau kegiatan rutin biasa, melainkan jati diri, identitas, dan cerminan jiwa asli masyarakat Tamansuruh yang wajib dijaga dan diteruskan agar tidak pudar digerus zaman.

“Di dalam tradisi ini tersimpan nilai persaudaraan yang kokoh, serta hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesama. Kekuatan sejati desa kita terlihat nyata saat seluruh elemen masyarakat bersatu bahu-membahu mempersiapkan dan melaksanakan acara ini dengan penuh ketulusan tanpa pamrih,” ujar Kang Teguh.
Ia juga berharap agar nilai-nilai luhur ini benar-benar dipahami dan diamalkan. “Budaya adalah nyawa dan harga diri kita sebagai masyarakat. Mari kita sama-sama rawat, lestarikan, dan hidupkan terus api tradisi warisan leluhur ini agar tetap bersinar, lestari, dan dibanggakan selamanya,” pungkasnya.
(MSP)













