Peduli Bangsa.Co.Id. Banyuwangi Jawa Timur. Ahmad Rizal Roby Ananta adalah seorang sarjana Hukum yang fokus pada Pidana Anak. Sepertinya Banyuwangi kota Gandrung ini setiap tahun selalu ada kasus pemerkosaan (Rudapaksa) pada anak. Hal ini viral lagi karena kasus 2 orang memperkosa anak di lokasi wisata terkenal Banyuwangi.
Hal ini sering terjadi bukan karena korban yang memiliki bentuh tubuh yang mengugah nafsu para pedofilia ini tetapi karena para pelaku kejahatan ini sering berfikir bahwa ketika pemerkosaan terjadi dan di laporkan, hal itu bisa di cabut dengan solusi di nikahkan. Agak tabu rasanya korban yang traumatik di nikahkan dengan alasan pertanggung jawaban oleh pelaku kejahatan. Setidaknya saya menemui kasus ini dalam waktu sebulan terdapat 5 orang pelaku.
Menikahkan korban bukanlah solusi tetapi malah membuat orang tua dan pejabat diskriminasi. Sehingga kelihatannya kasus ini akan selesai jika pertanggung jawabannya adalah MENIKAH. Tetapi kasus ini selesai bila mana orang tua mengawasi secara penuh dan detail pada anak. Serta hukuman berat kepada pelaku pedofilia. Dalam teori klasik pelaku kejahatan itu harus diberikan sanksi yang berat agar dia tidak melakukan lagi atau perbuatan yang kejam sebagai alasan balas dendam.
Saya setuju hal ini diberikan sebagai bukti kekuatan negara untuk melindungi anak dari pelaku kejahatan. Menikahkan anak membuat anak menjadi trauma. Pengalaman yang terjadi banyak kasus anak yang dinikahkan karena hamil diluar nikah atau juga diperkosa malah membuat masa depan anak menjadi tidak tentu.
Justru membuat anak makin menjadi orang yang tidak berpendidikan. Serta maraknya KDRT sehingga menikah bukanlah solusi. Dampak ketika orang tua setuju menikahkan anak adalah anak cenderung akan stres karena orang yang berbuat jahat kepada semakin dekat. Hal itu membuat trauma seorang anak menjadi tambah berat. Banyuwangi harus memiliki Program Care Centre untuk anak.Sebagai upaya pemerintah bertanggung jawab atas kewarasan pada anak. Sekian dari saya semoga hal ini menjadi ilmu kepada kalian semua.
(Ahmad Rizal Roby Ananta)













