Beranda Daerah Waspada Pinjaman Online Ilegal, OJK dan Komisi XI DPR-RI Ingatkan Masyarakat Banyuwangi

Waspada Pinjaman Online Ilegal, OJK dan Komisi XI DPR-RI Ingatkan Masyarakat Banyuwangi

Banyuwangi, pedulibangsa.co.id- Masyarakat sekarang harus berhati-hati dengan pinjaman online (pinjol) yang sedang marak. Apalagi layanan pinjol yang tidak terdaftar dan tak berizin. Keberadaan pinjol ilegal ini harus diwaspadai karena tidak semua pinjol diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

OJK sendiri merupakan lembaga independen yang mempunyai mempunyai tugas melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan.

Dalam mengemban fungsinya tersebut, OJK bersama anggota Komisi XI DPR RI Zulfikar Arse Sadikin, mengadakan sosialisasi tentang “Meningkatkan Kewaspadaan Masyarakat Terhadap Pinjaman Online Ilegal” di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur pada Minggu (7/8/2022).

Zulfikar mengatakan, kemudahan transaksi yang ditawarkan pinjol ilegal itu kerap dimanfaatkan oleh sebagian orang atau korporasi untuk melakukan kejahatan, khususnya di dunia siber. Pinjol tak berizin selalu melakukan tipu daya calon konsumennya dengan berbagai kemudahan meminjam uang.

“Tawarannya pun cukup menarik, tanpa ada embel-embel apapun, sudah bisa pinjam uang,” kata Zulfikar saat sosialisasi yang bertempat di Aula SMPN 1 Cluring itu.

Oleh karena itu, legislator fraksi Golkar itu meminta kepada masyarakat untuk lebih selektif memilih. Pinjol yang resmi, kata Zulfikar adalah pinjol yang secara resmi terdaftar OJK.

Pada kesempatan itu, hadir pula anggota DPRD Banyuwangi Sofiandi Susiadi dan seorang akademisi Keuangan dan Perbankan Syariah Afria Rachmawati yang bertindak sebagai pemberi materi.

Sofiandi Susiadi menambahkan, secara spesifik pinjol sangat mudah dilihat dan dibedakan. “Bisa dicek langsung kepada website OJK secara online. Yang diawasi oleh OJK di Indonesia ada sekitar 102 unit. Sedangkan ribuan lainnya bersifat ilegal,” ungkap Sofiandi.

“Transaksi online dipersilahkan, tapi yang aman dan harus menggunakan jasa pinjaman online yang terdaftar dan diawasi OJK,” sambungnya.

Sementara itu, Afria Rachmawati menjelaskan ciri-ciri pinjol ilegal, selain tak terdaftar di OJK, secara tampilan juga tidak ada logo OJK. Mereka juga kerap promosikan layanannya melalui SMS atau Whatsapp.

“Jangan pernah klik tautan promosi jasa pinjaman online yang dikirim lewat SMS maupun chat Whatsapp. Kalau diklik data indentitas kita bisa diambil,” terang Afria.

Perlu diketahui, OJK merilis data kerugian yang dialami masyarakat akibat pinjaman online (pinjol) atau fintech tak berizin resmi. Selama tahun 2021, tercatat masyarakat mengalami kehilangan uang sampai Rp 117,4 triliun. Mereka tergiur meminjam uang di pinjol ilegal.

OJK sendiri telah menutup 3.800 aplikasi pinjol ilegal selama setahun guna mencegah masyarakat mengalami kerugian yang lebih banyak lagi. (r)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here