Polda Metro Jaya Hentikan Perburuan Penyelidikan Misteri Kematian Satu Keluarga di Kalideres, Ini Hasilnya

banner 468x60

JAKARTA – pedulibangsa.co.id – Kepolisian Daerah Metro Jaya (Polda Metro Jaya) bersama Tim Ahli menyimpulkan kasus kematian satu keluarga, Rudyanto Gunawan (71) dan istrinya K Margaretha Gunawan (68), anaknya Dian Febbyana (42), dan ipar Budyanto Gunawan (69) yang jasadnya ditemukan mengering di dalam rumahnya, Perumahan Citra Garden 1, Kalideres, Jakarta Barat, pada 10 November 2022 lalu, tidak ditemukan unsur pidana. Dan penyidikan kematian misterius itu kini ditutup, Jum’at 9 Desember 2022.

Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Hengki Haryadi menyebutkan bahwa misteri kematian satu keluarga di kalideres Jakarta barat tidak memenuhi unsur pidana, sehingga tidak dapat dilanjutkan. “Penyidik, atau kami bersama tim Ahli dan beberapa unsur terkait, baik labfor telah menyimpulkan bahwa kematian 4 orang yang menjadi misteri selama ini di wilayah kalideres Jakarta barat tidak menemukan unsur Pidana.” kata Hengki Haryadi, didampingi Tim ahli saat menggelar jumpa pers di Mapolda Metro jaya, Jum’at 09 Desember 2022.

Menurut Hengki Haryadi, Polda Metro Jaya tidak bisa terburu-buru dalam mengungkap kasus kematian satu keluarga di Kalideres tersebut, karena membutuhkan waktu dan ketelitian, Dan akhirnya disimpulan dan diumumkan secara resmi bersama para tim Ahli. “Tim membutuhkan waktu lama untuk menunggu hasil laboratorium serta kepastian keterangan ahli bersama penyidik. Karena scientific crime investigation membutuhkan suatu kecermatan Analisa didukung oleh bukti serta keakuratan,” kata Hengki.

Hengki menjelaskan dalam kasus ini sendiri, terdapat empat korban yang ditemukan tewas membusuk pada kamis 10 November 2022 lalu. Keempat korban tersebut yaitu Rudyanto Gunawan (71) dan istrinya K Margaretha Gunawan (68), anaknya Dian Febbyana (42), dan ipar Budyanto Gunawan (69). “Kematian keluarga Kalideres adalah kematian yang wajar, namun dengan kondisi yang tidak wajar dan menjadi fenomena unik,” jelas Hengki

Sebab, lanjut Hengki ada salah satu anggota keluarga meninggal pertama kali, anggota keluarga lainnya tidak memakamkan secara wajar karena dipengaruhi kondisi keuangan, sosiologi dan pribadi setiap anggota keluarga lainnya. “Hingga akhirnya anggota keluarga lainnya menyusul meninggal dunia dengan penyebab sakit yang berbeda-beda ditambah situasi psikologis yang mempengaruhi mereka,” katanya.

Kabid Kimia Biologi Forensik Puslabfor Bareskrim Polri Kombes (Pol) Wahyu Marsudi menambahkan para Tim ahli Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri juga mendukung keputusan penyidik dengan memastikan tidak ada temuan bahan beracun dan berbahaya di tubuh satu keluarga tewas tersebut.

“Hasil pemeriksaan terhadap keempat jenazah korban, tim melalui laboratorium forensik tidak ditemukan adanya bahan beracun dan berbahaya dari tubuh korban. Pemeriksaan dilakukan menyeluruh terhadap keempat jenazah korban yakni Rudiyanto Gunawan, Reni Margaretha Gunawan, Dian, dan Budiyanto Gunawan,” kata Wahyu Marsudi.

“Bersama tim kedokteran forensik kami juga memeriksa dan menganalisis organ-organ tubuh jenazah satu persatu. Pemeriksaan organ-organ tubuh tersebut, baik itu dari ayah, ibu, anak dan paman. Dan kami tidak menemukan adanya bahan beracun dan berbahaya,” kata Wahyu Marsudi.

Dokter forensik dari RSCM Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ade Firmansyah, mengatakan merujuk pada pemeriksaan luar dan dalam dari jenazah korban, ditemukan petunjuk soal penyebab kematian dan urutan kematian. Urutan pertama yang meninggal adalah Rudyanto Gunawan (71) kemudian Reni Margareta (68). Ketiga adalah Budiyanto Gunawan (69) dan terakhir Dian Febbyana (42).

Sempat ada dugaan mereka kelaparan sebelum meninggal dan terlibat dalam kegiatan tak wajar seperti sekte dan VSED. Namun hal tersebut dibantah oleh tim penyidik.

Penjelasan Tim ahli soal penyebab kematian sekeluarga Kalideres:

1. Rudyanto Gunawan

dr Ade memaparkan berdasarkan hasil otopsi, ditemukan adanya gambaran terjadi pendarahan di saluran cerna atau infeksi di saluran pencernaan. “Masih bisa kita temukan adanya gambaran perdarahan saluran cerna dan adanya bukti-bukti yang diduga sebagai infeksi saluran cerna,” kata Ade juga dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat itu.

2. Renny Marghareta

Renny meninggal diduga karena adanya kelainan pada payudaranya. Simpulan ini sejalan dengan ditemukannya obat kanker payudara. Dari sisi forensik, tidak ditemukan adanya bahan beracun dari tubuh korban. Namun dari organ hepar, ada kandungan obat-obatan untuk kanker payudara.

“Korban Renny Margaretha juga di hatinya terdeteksi adanya Tamoxifen. Tapi sekali lagi bahwa Tamoxifen adalah bukan racun, itu adalah obat,” jelas Kabid Kimia Biologi Forensik Puslabfor Polri Kombes Wahyu Marsudi.

3. Budiyanto Gunawan

Budiyanto Gunawan meninggal karena serangan jantung. Hal ini disampaikan oleh dokter spesialis patologi anatomi subspesialisasi patologi forensik RS Polri, dr Asri Megaratri Pralebda, SpF. Hasil autopsi menemukan adanya penebalan pada pembuluh nadi yang merupakan indikasi serangan jantung.

4. Dian Febbyana

Dari hasil otopsi ditemukan adanya radang paru menahun atau kronis disertai penyakit pernapasan. dr Ade mengatakan paru-paru Dian memiliki rongga di dalamnya. Dia menyebut biasanya hal ini dialami oleh orang dengan penyakit TBC paru. “Sedangkan pada Ibu Dian tampak sekali ada makroskopik, yaitu pada saat autopsi dan pada saat kita lakukan pemeriksaan patologi forensik didapatkan bukti yang sangat jelas adanya radang paru yang menahun atau radang paru yang kronis,” kata dr Ade. (rizki)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *